Artikel

Pelet dalam Pendekatan Ilmiah, Apakah Pelet itu Rasional?

Pelet dalam Pendekatan Ilmiah

Pelet dalam Pendekatan Ilmiah, Apakah Pelet itu Rasional? – Pelet merupakan terminologi dari kata pengasihan. Kata pelet termasuk dalam daftar kaidah bahasa jawa yang mempunyai arti memikat atau menaklukkan hati orang yang Anda tuju. Hal ini mempunyai berbagai macam jenis, seperti keilmuan, benda dan mantra. Hanya segelintir saja orang memahami akan dunia pelet, dari mereka banyak yang menjadi guru pelet (ahli spiritual dan supranatural), keahlian tersebut mereka manfaatkan untuk membantu orang yang membutuhkan jasanya.

Banyak yang masih menganggap negatif seputar ilmu pelet, mungkin hal ini disebabkan oleh beberapa faktor budaya, seperti halnya banyak dari sudut pandang agama yang melarang cara ini dengan alasan sesuatu yang tidak vital bagi kehidupan, di anggap juga sebagai jalan yang salah. Akan tetapi hal ini tidak semena-mena disalahkan, karena dalam prosesnya juga menggunakan proses doa atau bacaan (mantra). Disinilah pelet berperan sebagai sugesti (pemantap) dalam usaha mendapatkan hati atau rasa yang di inginkan oleh pelaku, dengan keyakinan tinggi inilah sesuatu itu bisa berhasil.

Korelasi keyakinan dengan dunia pelet

Dalam dunia pengetahuan ada yang namanya energi kinetik (sesuatu yang bergerak menjadi energi). Dimana energi itu akan timbul jika seseorang dengan keyakinan dan harapan besar akan membangkitkan kinetik atau getaran.

Dengan keyakinan tinggi dan niat yang besar energi ini akan muncul dengan besar pula. Ini bukan sebuah keajaiban, tapi ilmiah, dan masuk akal. Sesuatu yang diyakini (doa, mantra dsb.) ibarat sebuah benda, dengan keyakinan tinggi akan menimbulkan massa atau energi, dan energi itu timbul sesuai apa yang di inginkan oleh orang tersebut.

Dalam kutipan ayat suci Al-Quran : “Ud’uni astajib lakum” yang artinya : “berdoalah maka akan saya kabulkan”.

Terlihat sedikit aneh dan tidak ada korelasinya jika dikaitkan dengan dunia pelet. Akan tetapi yang perlu kita tarik kesimpulan dari ayat tersebut adalah “bahwa doa apapun bisa dikabulkan”, sejelek apapun doa bisa terwujud asalkan di imbangi dengan usaha nyata.